Friday, May 1, 2026

Supporting Muslim Halal Store | Sebuah Langkah Kecil 'Muslim Support Muslim'

 

Assalamuallaikum warohmatullahi wabarokatu, sister fillah...

Senang ya bertemu tanggal merah dihari Jumat. Vibes-nya beda aja gitu, xixixi. Oh ya, liburannya pada kemana, nih ? 😉





Pagi tadi, kami berbelanja cemilan anak-anak dan beberapa kebutuhan rumah yang kebetulan memang sudah habis. Karena biasanya kami belanja untuk kebutuhan satu bulan langsung, belanja dalam jumlah banyak, kami suka belanja di store yang menawarkan harga grosir dan banyak promo-promo khusus, eheee. Sebetulnya ada store yang lebih dekat dengan rumah, tapi gapapa deh belanjanya jauhan dikit, karena biasanya sekalian main ke rumah mertua. Ehm, walaupun sebenarnya ini bukan hanya tentang belanja.



Mereka sudah bestie-an banget sama Goro Assalaam sedari kecil



Spot favorit bapak-bapak


Beberapa tahun belakangan, kami memahami sebuah pelaksanaan Syariat Islam bahwa sesederhana belanja pun juga butuh ilmu. Tentang hak pembeli dan penjual. Tentang tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Tentang keluarga muslim yang memiliki keutamaan untuk berbelanja kepada sesama muslim ketika mereka memiliki pilihan dan kelonggaran. Bermuamalah di tempat-tempat yang hanya menjual kebutuhan maupun makanan-makanan halal dan menjaga diri dari memasarkan sesuatu yang haram. Berbekal ilmu yang masih sedikit ini, kami mencoba untuk pelan-pelan mengupayakannya.


Seperti bulan-bulan biasanya, kami berbelanja di Goro Assalaam Hypermarket. One of my happy place. Aku suka calm ambience-nya. Memasuki gerbang, kita akan disuguhkan dengan pemandangan parkiran yang luas, entah bagaimana kalau melihat area yang luas bikin bernafas dan bergerak jadi terasa lebih plooong aja gitu. Toiletnya bersih, berada dibagian depan sisi kiri supermarket di dalam bangunan yang sama. 


Ada beberapa toko dan tenan yang menjual gamis-gamis cantik, abaya, dan pakaian-pakaian muslim (anyway... beberapa kali lebaran aku memakai gamis mereka). Penataan display-nya rapi sehingga barang mudah dicari. Ada tenan khusus yang menjual obat-obatan herbal dan madu dan beberapa tenan yang menjual buku-buku Islami. Beberapa bulan belakangan, mereka punya semacam toko roti sendiri (videonya soon aku unggah di youtube, insya Allah)


Goro Assalaam Hypermarket


Sebagai Muslim Halal Store, mereka sudah pasti tidak menjual minuman beralkohol apalagi makanan non halal. Ada pujasera di dalam supermarketnya, ada banyak pilihan makanan, bisa mampir isi perut dulu sebelum mutar-mutar belanja. 


Pramuniaga perempuan semuanya memakai hijab, tak ada wajah jutek atau respon judes. Tidak ada alunan musik berlebihan. Line kasirnya banyak. Selama bertahun-tahun belanja di sini, seramai apapun momennya, khususnya menjelang lebaran, belum pernah sampai berdesak-desakan. Ada beberapa kursi panjang yang disediakan untuk menunggu atau beristirahat sejenak. By the way, saya belum pernah bertemu sekalipun dengan customer yang berpakaian serba irit di sini, ehee. Jadi, pandangan terjaga mandali, insya Allah :)


Di area depan supermarket & di dekat area parkir, ada tenan-tenan kecil memanjang yang menjual berbagai macam snack dan minuman. Habis belanja, mampir jajan di sini juga asik.


Yang membuat supermarket ini berbeda dan istimewa, mereka juga mengupayakan dan menjaga syiar-syiar Islam. Ada sebuah masjid besar yang 'hidup, Masjid Ibadurrohman namanya. Berada dalam satu kompleks dengan supermarket, yang mana masjid ini aktif melaksanakan sholat berjamaah agar kita-kita yang sedang berbelanja di sini pun tetap bisa menjaga waktu sholat. Masjid ini juga aktif mengadakan kajian, semoga someday bisa join. Di dekat area masjid, ada beberapa warung makanan dan pujasera. Barangkali, jamaah laper, eheee 😄


Ya. Inilah upaya dan langkah kecil kami. Berbelanja di Muslim Halal Store, Goro Assalaam Hypermarket. 


Dengan berbelanja di pedagang muslim atau berbelanja di Muslim Halal Store (baik store besar atau kecil), harapannya, kita bisa mendukung sesama muslim untuk dapat menunaikan kewajiban membayar zakat. Apakah harus belanja ke store atau supermarket ? Nggak harus, kok. Berbelanja pada pedagang muslim kecil yang kita kenal justru lebih diutamakan. Kalau barang yang kita cari nggak ada di sini bagaimana ? Yaaa silakan untuk cari di tempat lain. 


Tetapi, logikanya begini. Semakin besar keuntungan yang diterima oleh seorang pedagang muslim atau sebuah Muslim Store, semakin banyak 'harta' yang dimilikinya, maka akan semakin mudah beramal, maka akan semakin besar juga zakat yang akan mereka bayarkan. Yang mana, zakat tersebut akan sangat membantu saudara-saudara muslim kita lainnya yang berhak menerima zakat. Ibarat kata nih ya, semakin lo kaya, (semestinya) kekayaan lo akan semakin membawa maslahat bagi muslim lainnya. Untuk pengembangan dakwah, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan pegawai dan kebaikan-kebaikan lainnya.


Sebentuk upaya saling mendukung dan saling menjaga sesama muslim dari 'kekurangan' yang bisa melemahkan hati, jiwa dan raga.


Apakah Muslim Support Muslim harus dengan cara berbelanja ? Enggak harus, yaa. Banyak sekali jalannya. Kita hanya diminta untuk bertakwa sesuai kesanggupan. Let's turn Taqwa into Action ~



For More Info, Visit Their :

Website : assalaammarket.com

Instagram : assalaamhypermarket

Wednesday, April 22, 2026

Penyempurna Kebaikan itu Bernama Hati Nurani

 

Pak Blangkon adalah Ketua Asosiasi Sobat Raket di sebuah Kompleks Menengah bernama Konoha Asri Village. Dalam tongkrongan Sabtu malam sobat begadang kali ini, warga melihat ia hadir membawa bahasa tubuh yang sedikit lebih gusar. 



Dalam banyak situasi, ia sebagai Ketua Asosiasi Sobat Raket Konoha Asri Village, kerapkali di hadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mudah. Dalam hal mengambil keputusan, misalnya. Ini baru lingkup kecil, bagaimana mengurus negara, pikirnya.


Ada tugas yang harus tetap berjalan, ada fungsi yang harus bergerak sesuai posisi dan dieksekusi sesuai batas maksimal kemampuan. Ada kepentingan yang perlu dipertahankan tetapi tetap mengupayakan segalanya terjaga dalam keseimbangan. Pada tahap ini, ia kerapkali mengakalinya dengan ekspansi yang lebih halus. Sampai di sini, semuanya masih mandali, aman terkendali. 


Ia tak pernah menyangkal bahwa naluri alami manusia adalah mempertahankan apa yang dibutuhkan dari sesuatu yang sudah didapatkan. Dia sadar betul, pada banyak waktu, ambisi bisa menguasai diri siapa saja. Disaat yang sama, bersyukur kebaikan hati masih sedikit banyak terjaga. Pada tahap ini, godaan untuk melakukan hal yang melanggar nurani dan kelurusan hati saling berkejaran. Ketika godaan itu telah menguasai, cepat atau lambat ketimpangan bisa terjadi. 


Tetapi, ketimpangan dan keseimbangan, kebaikan dan keburukan kerapkali bersinggungan dan saling mengisi. Ada kalanya, keseimbangan yang diupayakan sebaik-baiknya, berujung pada habisnya energi dan waktu untuk diri sendiri. Sebaliknya, sebentuk ketimpangan bisa membuat diri memiliki pemahaman yang mendalam tentang kebaikan dari mundur selangkah.


Malam itu, Pak Blangkon ingat sebuah Sabda Nabi dari Hadist Riwayat At-Tirmidzi "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari keburukannya (aibnya terjaga). Dia merenungi kalimat paling akhir.


Lalu dia teringat, bahwa di tengah pilihan-pilihan yang tak mudah, sesungguhnya manusia hanya butuh kelapangan hati untuk berunding, keikhlasan menjalani dan hati nurani sebagai penyempurna kebaikan. Lalu ia tersadar, betapa beruntungnya manusia-manusia yang Allah jadikan ucapan dan perbuatannya sebagai kunci kebaikan. Dan harapannya masih sama. 


Malam itu, tongkrongan sobat begadang berakhir dengan nyemil jadah bakar dan minum jahe bersama. Ada kegusaran yang sedikit terurai. 


Tapi, barangkali ini bukan hanya tentang kegusaran Pak Blangkon ~

Tuesday, March 17, 2026

Dunia Tak Harus Setuju Nilai Dirimu | Catatan Ramadan 1447 H

 

Hati kembali menemukan rasa menentramkan itu kala berjumpa Ramadan. Hari-hari terbaik untuk menepi, mengambil jeda sebentar dan meluangkan waktu untuk kembali lebih dekat mengenal diri.


Nyatanya, kebanyakan manusia tidak benar-benar tau apa yang ia mau dan tak berkeyakinan penuh atas keputusan-keputusan yang akhirnya ia pilih. Terlampau sibuk dan membiarkan hidup let if flow saja. Sayangnya, aku tak pernah sepakat dengan konsep let it flow itu. 


Ramadan, waktu dimana aku ingin mengingat-ingat kembali...




Apa yang sebenarnya aku inginkan dan aku suka ?

Bagaimana sebenarnya nilai hidup yang aku yakini ?

Sudahkah aku jujur dengan nilai-nilai hidup yang aku jalani ?

Mimpi apa yang sedang aku kejar ?

Upaya apa yang sudah aku lakukan untuk jadi lebih baik ?

Sebagai seorang istri dan seorang ibu yang ingin lebih dekat dengan Rabb nya...


Momen kontemplasi Ramadan tahun ini membuatku semakin tersadar. Rasanya tak perlu bersusah payah mencari cara agar mata-mata di luar sana melihat nilai diri kita. Sebab, nilai diri seorang manusia sebetulnya tak hanya terlihat tetapi bisa dirasakan pula oleh orang-orang yang hadir dalam hidupnya. Especially, mereka yang punya kesamaan rasa dengan nilai-nilai yang aku yakini dan jalani. Kalau toh 'nilai' itu tak terlihat, artinya, apa yang mereka cari dan butuhkan tak ada dalam diri ini. Dan itu nggak papa. 


Sebab, kita tetap bernilai bagi mereka yang betul-betul mengenal kita. Orang tua kita, pasangan hidup kita, anak-anak kita, teman terdekat kita, orang-orang di sekeliling kita. Mereka yang bersedia membuka diri untuk mengenal kita.


Aku menyukai kejelasan dan keteraturan. Nyaman berpakaian longgar bersama panjang dan lebar hijab yang dikenakan, especially warna gelap. Tetap rapi dan wangi di momen apapun. Tak perlu sering berinteraksi dengan banyak manusia tetapi tetap bisa membangun kegiatan yang bermakna. Punya waktu spesial untuk bercerita dan mendengarkan cerita orang tua. Punya banyak waktu untuk anak-anak dan selalu nyiapin bekal untuk mereka. Makan makanan sederhana dan disuka. Deep talk bersama partner hidup dan berbagi pengetahuan. Tak berjauhan tapi tetap seru dengan hobi masing-masing. Sholat subuh berjama'ah di masjid full team. Merasakan angin segar dan melihat matahari terbit. Bertemu dengan sahabat shaliha-ku. Belajar psikologi manusia. Dan, aku ingin tetap menulis. Menikmati proses dan tetap menguatkan akar nilai dalam diri. Inilah versi paling jujur tentang tenang yang aku cari.


Dan... Di ramadan ini semua mewujud dengan tenangnya. Prosesnya tak melulu sempurna, tapi aku tetap merasa berlimpah berkah luar biasa. 


Sebab, aku percaya, mereka yang telah menemukan ketenangan dan kebahagiaan saat berproses adalah orang-orang yang punya kemungkinan lebih besar untuk memahami dan mudah menjalani nilai-nilai hidup yang ia yakini.


Ya... dunia tak harus setuju dengan nilai dirinya. Ia akan selalu berterima kasih atas pelajaran dari manusia-manusia yang pernah hadir. Dan, akan ia persilahkan alam semesta menghadirkan manusia-manusia yang sesuai dengan nilai hidup yang ia tawarkan. Atas izin Rabb nya...



Selasa, Hari ke Dua Puluh Delapan, Ramadan 1447 H ~

Monday, January 26, 2026

Tidak Membenci Hujan

 

Langit tampak gelap dan terlihat lebih mendung dari biasanya, padahal sudah pukul enam tiga puluh pagi. Ada semacam perasaan yang membuatku jadi sedikit lebih gloomy. Aku tidak suka pagi dengan matahari yang bersembunyi. Aku tidak nyaman dengan rintik kecil yang membesar dan liar. Tidak, aku tidak membenci hujan. Aku hanya tidak menyukai timing-nya.




Mereka bilang, hujan itu menenangkan. Mereka bilang, hujan bisa membawa mereka menari-nari bersama memori. Mereka bilang, mereka jadi tak perlu sedih sembunyi-sembunyi. Mereka bilang, hujan itu melegakan. Sementara aku, mengapa aku tak selalu bisa menikmati hadirnya hujan ? Mengapa tiap kali hujan hadir aku justru merasa khawatir ? Apalagi akhir-akhir ini hujan tumpah dengan tak ramah.


Ia bukan lagi air jernih yang jatuh tenang dari langit. Ia seolah tak lagi turun sebagai berkat. Aku tidak nyaman dengan hujan yang tak kunjung reda. Aku memang tidak menangis, tapi sulit rasanya menjelaskan bahwa aku sedih melihat banjir dan longsor dimana-mana. Sementara di tempatku, air hujan mengubah jalanan menjadi genangan. Berkali-kali ku biarkan deras hujan menusuk wajah dan kulitku sambil melaju agar segera sampai ke rumah. Dalam perjalanan, nyaris terjatuh & terpeleset karena lubang yang tertutup air. Mantol tidak sepenuhnya bisa memayungi. Mereka menyuruhku "mobilan saja". Mereka menyuruhku berhenti membenci hujan. Tidak, aku bilang aku tidak membenci hujan.


Tapi, bolehkah aku jujur atas satu-satunya hal yang aku sukai saat hujan ? Hujan membuka pintu-pintu langit untuk mempercepat sampainya doaku. Aku merasa Dia lebih dekat kala hujan. Sehingga hati mudah tenggelam dalam tafakur.


Tidak, aku tidak membenci hujan. Sebab, aku menyukai hujan yang baik, hujan sedang tanpa angin kencang, agar aku bisa melihat padi yang berbunga dan membentuk bulir ~

Sunday, January 11, 2026

Alarm Itu Bernama Intuisi

 

Entah bagaimana mulanya, perempuan itu merasa punya kecenderungan untuk cepat membaca tanda dan pola. Seolah sedang membaca jalan cerita di depan mata, sebuah cerita yang samar, tetapi ia tahu kemana arah cerita itu akan bermuara. Sesuatu yang sebenernya tak ingin dia ketahui, tapi tetap saja alarm itu berbunyi.





Awalnya, ia mengira perasaan itu hanyalah sebuah asumsi acak sebab kepekaan hatinya. Barangkali ia hanya sedang merasa-rasa. Ya, perempuan selalu menggunakan perasaannya, bukan ? Baper, katanya. Kenyataannya, alarm itu berbunyi tidak dengan tiba-tiba dan bersuara dengan cara tak terduga. Awalnya terdengar bunyi pelan, ada pola yang berulang. Ada rangkaian kejadian yang saling bertaut. Ia amati, ia telusuri, lalu ia rangkai pola demi pola itu dengan apa yang ia ketahui. Yang semula samar lama-kelamaan menjadi terang. 


Sinyal yang kerapkali ia kirimkan pula untuk orang-orang terdekatnya. Padahal, dirinya sendiri justru seringkali mengabaikannya sampai-sampai alarm peringatan itu tak selalu berhasil menyelamatkannya.


Ya... Dunia terlalu bising baginya. Ia tahu motif tersembunyi dari topeng-topeng manusia bumi. Ia bisa melihat dualisme makna dari sikap manusia. Ia memahami setiap perkataan atau pertanyaan dari nama-nama baru yang hadir dalam hidupnya. Ia dengan cepat membaca pola, bahasa tubuh, mimik wajah, reaksi emosional mereka. Ia dengan cepat mengetahui apakah energi mereka akan selaras atau tidak meski belum ada interaksi yang berkelanjutan. Ia bisa melihat akan bagaimana relasi baru itu akan berujung. Apakah itu overthink ? Ia rasa bukan.


Sampai akhirnya kompas itu memberinya petunjuk dan membawanya pada sebuah jalan hingga kebenaran itu satu per satu terhampar di depan mata ~



اِÙ‡ْدِÙ†َا الصِّرَاطَ الْÙ…ُسْتَÙ‚ِÙŠْÙ…َۙ

(Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus...)