Wednesday, April 22, 2026

Penyempurna Kebaikan itu Bernama Hati Nurani

 

Pak Blangkon adalah Ketua Asosiasi Sobat Raket di sebuah Kompleks Menengah bernama Konoha Asri Village. Dalam tongkrongan Sabtu malam sobat begadang kali ini, warga melihat ia hadir membawa bahasa tubuh yang sedikit lebih gusar. 



Dalam banyak situasi, ia sebagai Ketua Asosiasi Sobat Raket Konoha Asri Village, kerapkali di hadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mudah. Dalam hal mengambil keputusan, misalnya. Ini baru lingkup kecil, bagaimana mengurus negara, pikirnya.


Ada tugas yang harus tetap berjalan, ada fungsi yang harus bergerak sesuai posisi dan dieksekusi sesuai batas maksimal kemampuan. Ada kepentingan yang perlu dipertahankan tetapi tetap mengupayakan segalanya terjaga dalam keseimbangan. Pada tahap ini, ia kerapkali mengakalinya dengan ekspansi yang lebih halus. Sampai di sini, semuanya masih mandali, aman terkendali. 


Ia tak pernah menyangkal bahwa naluri alami manusia adalah mempertahankan apa yang dibutuhkan dari sesuatu yang sudah didapatkan. Dia sadar betul, pada banyak waktu, ambisi bisa menguasai diri siapa saja. Disaat yang sama, bersyukur kebaikan hati masih sedikit banyak terjaga. Pada tahap ini, godaan untuk melakukan hal yang melanggar nurani dan kelurusan hati saling berkejaran. Ketika godaan itu telah menguasai, cepat atau lambat ketimpangan bisa terjadi. 


Tetapi, ketimpangan dan keseimbangan, kebaikan dan keburukan kerapkali bersinggungan dan saling mengisi. Ada kalanya, keseimbangan yang diupayakan sebaik-baiknya, berujung pada habisnya energi dan waktu untuk diri sendiri. Sebaliknya, sebentuk ketimpangan bisa membuat diri memiliki pemahaman yang mendalam tentang kebaikan dari mundur selangkah.


Malam itu, Pak Blangkon ingat sebuah Sabda Nabi dari Hadist Riwayat At-Tirmidzi "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari keburukannya (aibnya terjaga). Dia merenungi kalimat paling akhir.


Lalu dia teringat, bahwa di tengah pilihan-pilihan yang tak mudah, sesungguhnya manusia hanya butuh kelapangan hati untuk berunding, keikhlasan menjalani dan hati nurani sebagai penyempurna kebaikan. Lalu ia tersadar, betapa beruntungnya manusia-manusia yang Allah jadikan ucapan dan perbuatannya sebagai kunci kebaikan. Dan harapannya masih sama. 


Malam itu, tongkrongan sobat begadang berakhir dengan nyemil jadah bakar dan minum jahe bersama. Ada kegusaran yang sedikit terurai. 


Tapi, barangkali ini bukan hanya tentang kegusaran Pak Blangkon ~

Tuesday, March 17, 2026

Dunia Tak Harus Setuju Nilai Dirimu | Catatan Ramadan 1447 H

 

Hati kembali menemukan rasa menentramkan itu kala berjumpa Ramadan. Hari-hari terbaik untuk menepi, mengambil jeda sebentar dan meluangkan waktu untuk kembali lebih dekat mengenal diri.


Nyatanya, kebanyakan manusia tidak benar-benar tau apa yang ia mau dan tak berkeyakinan penuh atas keputusan-keputusan yang akhirnya ia pilih. Terlampau sibuk dan membiarkan hidup let if flow saja. Sayangnya, aku tak pernah sepakat dengan konsep let it flow itu. 


Ramadan, waktu dimana aku ingin mengingat-ingat kembali...




Apa yang sebenarnya aku inginkan dan aku suka ?

Bagaimana sebenarnya nilai hidup yang aku yakini ?

Sudahkah aku jujur dengan nilai-nilai hidup yang aku jalani ?

Mimpi apa yang sedang aku kejar ?

Upaya apa yang sudah aku lakukan untuk jadi lebih baik ?

Sebagai seorang istri dan seorang ibu yang ingin lebih dekat dengan Rabb nya...


Momen kontemplasi Ramadan tahun ini membuatku semakin tersadar. Rasanya tak perlu bersusah payah mencari cara agar mata-mata di luar sana melihat nilai diri kita. Sebab, nilai diri seorang manusia sebetulnya tak hanya terlihat tetapi bisa dirasakan pula oleh orang-orang yang hadir dalam hidupnya. Especially, mereka yang punya kesamaan rasa dengan nilai-nilai yang aku yakini dan jalani. Kalau toh 'nilai' itu tak terlihat, artinya, apa yang mereka cari dan butuhkan tak ada dalam diri ini. Dan itu nggak papa. 


Sebab, kita tetap bernilai bagi mereka yang betul-betul mengenal kita. Orang tua kita, pasangan hidup kita, anak-anak kita, teman terdekat kita, orang-orang di sekeliling kita. Mereka yang bersedia membuka diri untuk mengenal kita.


Aku menyukai kejelasan dan keteraturan. Nyaman berpakaian longgar bersama panjang dan lebar hijab yang dikenakan, especially warna gelap. Tetap rapi dan wangi di momen apapun. Tak perlu sering berinteraksi dengan banyak manusia tetapi tetap bisa membangun kegiatan yang bermakna. Punya waktu spesial untuk bercerita dan mendengarkan cerita orang tua. Punya banyak waktu untuk anak-anak dan selalu nyiapin bekal untuk mereka. Makan makanan sederhana dan disuka. Deep talk bersama partner hidup dan berbagi pengetahuan. Tak berjauhan tapi tetap seru dengan hobi masing-masing. Sholat subuh berjama'ah di masjid full team. Merasakan angin segar dan melihat matahari terbit. Bertemu dengan sahabat shaliha-ku. Belajar psikologi manusia. Dan, aku ingin tetap menulis. Menikmati proses dan tetap menguatkan akar nilai dalam diri. Inilah versi paling jujur tentang tenang yang aku cari.


Dan... Di ramadan ini semua mewujud dengan tenangnya. Prosesnya tak melulu sempurna, tapi aku tetap merasa berlimpah berkah luar biasa. 


Sebab, aku percaya, mereka yang telah menemukan ketenangan dan kebahagiaan saat berproses adalah orang-orang yang punya kemungkinan lebih besar untuk memahami dan mudah menjalani nilai-nilai hidup yang ia yakini.


Ya... dunia tak harus setuju dengan nilai dirinya. Ia akan selalu berterima kasih atas pelajaran dari manusia-manusia yang pernah hadir. Dan, akan ia persilahkan alam semesta menghadirkan manusia-manusia yang sesuai dengan nilai hidup yang ia tawarkan. Atas izin Rabb nya...



Selasa, Hari ke Dua Puluh Delapan, Ramadan 1447 H ~

Monday, January 26, 2026

Tidak Membenci Hujan

 

Langit tampak gelap dan terlihat lebih mendung dari biasanya, padahal sudah pukul enam tiga puluh pagi. Ada semacam perasaan yang membuatku jadi sedikit lebih gloomy. Aku tidak suka pagi dengan matahari yang bersembunyi. Aku tidak nyaman dengan rintik kecil yang membesar dan liar. Tidak, aku tidak membenci hujan. Aku hanya tidak menyukai timing-nya.




Mereka bilang, hujan itu menenangkan. Mereka bilang, hujan bisa membawa mereka menari-nari bersama memori. Mereka bilang, mereka jadi tak perlu sedih sembunyi-sembunyi. Mereka bilang, hujan itu melegakan. Sementara aku, mengapa aku tak selalu bisa menikmati hadirnya hujan ? Mengapa tiap kali hujan hadir aku justru merasa khawatir ? Apalagi akhir-akhir ini hujan tumpah dengan tak ramah.


Ia bukan lagi air jernih yang jatuh tenang dari langit. Ia seolah tak lagi turun sebagai berkat. Aku tidak nyaman dengan hujan yang tak kunjung reda. Aku memang tidak menangis, tapi sulit rasanya menjelaskan bahwa aku sedih melihat banjir dan longsor dimana-mana. Sementara di tempatku, air hujan mengubah jalanan menjadi genangan. Berkali-kali ku biarkan deras hujan menusuk wajah dan kulitku sambil melaju agar segera sampai ke rumah. Dalam perjalanan, nyaris terjatuh & terpeleset karena lubang yang tertutup air. Mantol tidak sepenuhnya bisa memayungi. Mereka menyuruhku "mobilan saja". Mereka menyuruhku berhenti membenci hujan. Tidak, aku bilang aku tidak membenci hujan.


Tapi, bolehkah aku jujur atas satu-satunya hal yang aku sukai saat hujan ? Hujan membuka pintu-pintu langit untuk mempercepat sampainya doaku. Aku merasa Dia lebih dekat kala hujan. Sehingga hati mudah tenggelam dalam tafakur.


Tidak, aku tidak membenci hujan. Sebab, aku menyukai hujan yang baik, hujan sedang tanpa angin kencang, agar aku bisa melihat padi yang berbunga dan membentuk bulir ~

Sunday, January 11, 2026

Alarm Itu Bernama Intuisi

 

Entah bagaimana mulanya, perempuan itu merasa punya kecenderungan untuk cepat membaca tanda dan pola. Seolah sedang membaca jalan cerita di depan mata, sebuah cerita yang samar, tetapi ia tahu kemana arah cerita itu akan bermuara. Sesuatu yang sebenernya tak ingin dia ketahui, tapi tetap saja alarm itu berbunyi.





Awalnya, ia mengira perasaan itu hanyalah sebuah asumsi acak sebab kepekaan hatinya. Barangkali ia hanya sedang merasa-rasa. Ya, perempuan selalu menggunakan perasaannya, bukan ? Baper, katanya. Kenyataannya, alarm itu berbunyi tidak dengan tiba-tiba dan bersuara dengan cara tak terduga. Awalnya terdengar bunyi pelan, ada pola yang berulang. Ada rangkaian kejadian yang saling bertaut. Ia amati, ia telusuri, lalu ia rangkai pola demi pola itu dengan apa yang ia ketahui. Yang semula samar lama-kelamaan menjadi terang. 


Sinyal yang kerapkali ia kirimkan pula untuk orang-orang terdekatnya. Padahal, dirinya sendiri justru seringkali mengabaikannya sampai-sampai alarm peringatan itu tak selalu berhasil menyelamatkannya.


Ya... Dunia terlalu bising baginya. Ia tahu motif tersembunyi dari topeng-topeng manusia bumi. Ia bisa melihat dualisme makna dari sikap manusia. Ia memahami setiap perkataan atau pertanyaan dari nama-nama baru yang hadir dalam hidupnya. Ia dengan cepat membaca pola, bahasa tubuh, mimik wajah, reaksi emosional mereka. Ia dengan cepat mengetahui apakah energi mereka akan selaras atau tidak meski belum ada interaksi yang berkelanjutan. Ia bisa melihat akan bagaimana relasi baru itu akan berujung. Apakah itu overthink ? Ia rasa bukan.


Sampai akhirnya kompas itu memberinya petunjuk dan membawanya pada sebuah jalan hingga kebenaran itu satu per satu terhampar di depan mata ~



اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

(Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus...)

Tuesday, December 30, 2025

2025 Reflections : Understanding 'This is Enough'

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ




It's been a tough year for everyone but there's still a lot to be thankful for & I hope we still grateful for the life lessons we learned...


❤  Level up energy and spiritual protection with improving and strengthening our relationship with Allah Ta'ala may not eliminate our hardship but it will helps us stay stronger. We may lucky enough to meet sincere and caring people in hard times, but recognize our limitation only for Allah's forgiveness and blessing will purify soul and improve our focus, Insya Allah. Isn't that enough to depend on with Allah in every circumstance ? 


❤ Realizing 'this is enough'. Simplify everything, focus on what we can control and understanding when enough is enough. It given us more self control and bring us more peace even in hard days. It makes me and my husband more easy to create mindful decisions about how to respond anything happened in life.


❤  Completely honest with ourselves. Being honest means that we brave of the consequences that come with honesty. Because of this, me and my husband choose peace over people. Remember, there's always antagonist role in life, hence we enough with just a few of people whom we choose to open, to spend time with and 'deserve' our attention. 


❤ Being comfortable with silence but still adapted with discomfort. Accept everything that we don't fully fit in. With someone, a social group or a situation. Accept that not everyone will comfort with us. Alhamdulillah, I'm blessing with this feeling.


❤  Forgiveness. It takes strong heart to do. It's better to forgive from distance, even if they haven't asked for it. You don't even have to tell them. Just pray for them hopefully they will learn, grow and be better from their mistakes.


❤ Bismillah for every opportunities in life. But still be careful. Maybe it comes once in a lifetime. Maybe it is right there awaiting for us. Maybe it will give us a life lesson. All we can do is trying and praying. Everything happen for a reason, right ?


❤  In today's fast-paced world, I think everyone should have a passion. Something we like and develop. Loving ways to reconnect with ourselves. Writing could brings out all the hidden emotions and the introverted part of me. Re-read more book enjoy my day. It would feel, the time has slow down and the world has become calm. It's a self-care, it's important and that’s more than enough. 


❤ Never underestimate the power of 'being here'. When the body and soul being here with them. Worship, play, study, eat, sleep, read a book, doing an imperfect thing, happy and cry with my kids. Not just takes time but makes time for them. 


❤ Change isn't really that scary. New place, new environment, new circle, new beginning. There should be some people who uncomfortable with the presence of new people. It's normal and just a part of life. 


❤  Mindfully let go. I prefer to protect my energy from over think. There still people will not like me, will makes me disappoint, disrespect and treat me unpleasantly. Everywhere. Understand them, maybe they just don't understand me and struggle to feel enough with their life.


Alhamdulillah for 2025, Bismillah for 2026 and the next years after ~